Jan 17, 2010

Lifting the lid

Bismillahir rahmanir rahim

 A sahabiah of mine shared, sometimes, we thought we've reached the peak of iman : our Qiam is tearful, we feel Allah in every single of our breath. We felt as if we were on the top; with joy, our walk isn't the regular walk steps, but almost a hop (like the one I used to see on cartoons, when the girls went to berry-picking, they HOP with joy instead of walk). We forgot that an Ibadur Rahman yamsyuna 'alal ardi haunan (Al-Furqan 25:63). They walk on  earth with  tawadhu' (humility). I can't picture it right the first time I learnt about this ayat, but Syeikh Yusuf Qardhawi's 12 Sifat Ibadur-Rahman book illustrates this quality the best. An Ibadur Rahman walks the way a man-who-will-be-returned-to-the-dirt walks. As an Ibadur Rahman steps on the ground, he knew, at any moment, he would be even lower (6 feet under) than the ground he's stepping on. Nah!

Yes, a Muslim should be izzah (proud), but of what is he taking pride differs a self-pride than izzah. When you are proud of being good, holy, etc, that is a self-pride. When one feels better, holier than the others, that is the moment when he's actually at the WORST! Ah! Isn't Allah who gives us the strength and drive to do good deeds? And when He gives us such strength, we felt as if the good deeds are all because of our own effort, that we do not praise Him at all! Pirah!

Ah! I called Ummi and asked her for advice. She gave the usual. bla bla bla.. Almost, one might thought her advice is as usual as an ustazah's on the usual Islamic show on TV eg al-Kuliyyah, Forum Perdana, al-Hidayah etc.. I wished for something that is fiery and burning. Nah! I took my time reflecting. This is actually what I need, because I've ditched these for a very long time. And that's why Allah made Ummi repeated the same thing again and again.

There was a phase in my life, when I felt very close to Him. But the drive which propelled me to be close to Him was shallow - to get As, to excel in PMR, UPSR etc. During such phase, there were even times when I felt my dhuha had this indescribable calming effect. There were even times when I felt as if the Malaikats are always there watching and guarding me, when I was walking to the class, prep etc.

Nah! Now, I know my aim has gone beyond As. My exam is not just here. The FINALe awaits in the hereafter. But, the aim hasn't penetrate deep into the heart. How could I put so much effort for the worldly exams (PMR, UPSR, PTS, etc) but not for the FINAL?

Ummi shared many practical tips that I am still struggling to make them on an istiqamah basis.

Ummi reminded us that hidayah is not like a guest peeking on a house (heart) and shyly knocking on the door. But, Allah is SO Generous that His Hidayah is like a water being poured into a jug (bejana).

Your heart is not a house with a door,
but a jug with a lid on it.

Hidayah does NOT KNOCK,
but it is POURED UNCOUNTABLY into our jug (heart) by Allah! 

If you keep thinking that your heart has a door, you would have many options -  to open it all, 99%, 68%, half, quarter or not at all.
But, if you view it as a jug with a lid, you opt ONLY between two - lift or not to lift.

If only we lift the lid, we can see so much! (refer Bro Maher's Open Your Eyes)

Allahualam...

Jan 10, 2010

Bismillahirrahmanirrahim..

Hari itu tak ramai orang. Seakan-akan, semuanya sudah lari menjauhi gelanggang. Ada perlawanan maha besar hari ini. Aku menapak penuh berani.




Andai hidupku ini sebuah filem koboi, pastinya saat ini kelihatan seperti sebuah pekan koboi yang ditinggalkan. Terik. Panas. Angin kering bertiup kadang-kadang, sambil menggolekkan gumpalan rumput kering. Pintu bar buka-tutup-buka-tutup dek angin kering lagi berpasir. Kemudian, terjemalah sebelah pasang kasut koboi. Arah pandangan mata pun menuju ke arah atas, untuk melihat siapakah tuan punya kasut koboi itu. Oh! Seorang koboi yang cool sedang mengunyah sehelai rumput kering manakal sebelah tangannya kemas penuh siaga di pinggang tempat tersimpannya pistol. Lalu, encik koboi pun mengangkat sedikit topi koboinya, namun sudah cukup jelas untuk melihat gerangan siapakah koboi itu.

Hari ini ada perlawanan besar - final exam mikrobiologi. Bukanlah kali pertama aku periksa. Tapi entah. Lain macam efek peperiksaan kali ini. Aku terperangkap dalam logika kehendak nafsu ego seorang manusia dan sebuah ideologi tauhid yang berimankan Tuhan yang Esa, penentu segala takdir. Aku benar-benar ingin mendapat 5, sebab target aku untuk med-school, dapat all 5 kecuali subjek yang berkait langsung dengan kimia. Aku sekadar tahu, tapi tiada mahu, untuk menerjunkan diri dalam ketenangan dan redupnya beriman pada ketetapan baik buruk yang Allah beri.

Juga, ini bakal jadi transisi. Sebelum periksa, memang aku sibuk memerap diri menatap dan meratap akan buku mikrobiologi, dalam banglo AM (akademi mikrobiologi) untuk para finalis mikrob. Tapi ini turning point-nya, sama ada aku bakal terus menyibukkan diri sebagaimana yang ditekankan dalam surah asy-syarh, ayat 7 (maka, apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras) atau sekadar hidup ala kadar ibarat binatang yang meragut nasi, meminum air, berkubang di atas katil, dan melayan keperluan-keperluan dan keinginan diri sendiri. Ah!

Ah! Memang macam-macam. Malam periksa aku tak dapat tidur. Semua mimpi keluar nama antigen, nama mikrob dan berterabur semua segala. Mengarut sungguh! Ah! Bangun-bangun, satu-satu SMS akak-akak masuk.. Mengingatkan diri tentang hakikat usaha, tawakal dan takdir. Ah! Berkali-kali diusahakan agar hati ini lembut, dan terjun berteduh ke dalam ketenangan beriman dengan qada' dan qadar Ilahi..

Alhamdulillah, dapat soalan, aku mampu menulis. Tidaklah se-blur yang kutakutkan. Ketika oral, rupanya banyak je answer sheet daku yang tak complete. Tapi, alhamdulillah, yang tak complete tuh aku kena soal dan soalan oral Puan Budanova, aku jawab dengan betul. Dia pun senyum banyak, kata good-good segala. Alhamdulillah.. Mahu tak nya aku dapat 5. Alhamdulillah.. So far, semua subjek non-kimia aku ok. Lalu, menujulah aku ke meja keputusan. Tempat di mana markah aku diisi dalam buku laporan keputusan.

Alih-alih, aku nampak 4 kat nama aku. Eh? Biar betul?!! Aku cek betul-betul. Waaa!!! Memang 4 lah! Hamek ko!!!

Demikianlah, terkotorlah rekod subjek non-kimia daku. Dan, alhamdulillah, aku tak mati pun.. Bukan main aku takut exam sampai mimpi-mimpi segala. Haisyh...

Kesimpulannya, aku belajar banyak mikrob, dan aku juga belajar betapa aku (kamu, kamu dan kamu juga tentunya!) masih hanya di pinggir keimanan..Jauh bergantung kepada Allah.. Masih mengutamakan dunia jauh daripada kampung akhirat.

Sukar bukan jadi manusia beriman, walaupun bapak emaknya dah taruk nama Iman?

Banyak waktu dalam hidup kita, kita habiskan seolah-olah Tuhan itu tiada. Dan, dalam hidup kita, seolah-olah Tuhan itu hanya ada ketika solat 5 fardu, usrah-usrah, tazkirah-tazkirah etc. Lagak kita ibarat Tuhan itu tiada ketika kita stay-up, menulis blog, ketika kita pulun study, ketika kita seronok memasak dan memagut nasi serta lauk pauk, ketika kita berhubungan sesama manusia, ketika kita melakukan hobi kita. Ah! Banyak lemahnya kita nih.. Cakap je lebat.. 

Allahualam... Bersama muhasabah ya! Moga, kita menghabiskan cuti ini dengan lagak gaya seorang hamba yang memang Allah ada MELIHAT, MEMANTAU dan BERSAMA kita.. Allahualam.. Moga-moga, perkongsian ini menjadi pahala pasif buat aku!